HIJAU HITAM COMMUNITY
1. Diharapkan Untuk Login
2. Bagi New member diharapkan untuk Register/daftar

Enjoy Your Forum
Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Buku Tamu Hijau Hitam
Tue Nov 20, 2012 1:12 am by veni_judo

» Temu Ramah 2012
Sun Sep 02, 2012 3:54 pm by mitanovianty

» Sisi Lain Temu Ramah.....
Sun Sep 02, 2012 3:27 pm by mitanovianty

» Saran dan Kritik tampilan forum
Thu Feb 23, 2012 9:29 pm by Admin

» Kesejahteraan Sosial dan Problema Pembangunan
Thu Feb 23, 2012 8:48 pm by aafrianshah

» Mustafa Kemal Pasha (Ataturk)
Sun Oct 30, 2011 1:41 am by tatha_neh

» Zona Bebas
Sun Oct 30, 2011 1:23 am by Admin

» Numpang Majang.....
Mon Oct 17, 2011 3:08 am by Admin

» kontrak Dagang kerajaan melayu dengan VOC 1643-1763
Mon Oct 17, 2011 2:37 am by anak_gaul

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Affiliates
free forum


Senja di Pulau Tanpa Nama

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Senja di Pulau Tanpa Nama

Post by aafrianshah on Wed Sep 29, 2010 6:34 pm

SEPERTI Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada. Jika dia memang ada, tentunya ia sedang berdiri di sana, di pulau tanpa nama itu, dalam remang senja tanpa langit yang kemerah-merahan tanpa mega bersepuh cahaya keemasan-emasan tanpa segala sesuatu yang seperti biasanya membuat senja menjadi begitu sendu dan mengharukan begitu indah dan menggetarkan- -tanpa itu semua, tanpa segala pesona senja yang akan membuat kita terlalu mudah jatuh cinta. Tanpa itu semua. Tetapi hatiku sudah penuh dengan segala sesuatu yang seolah-olah seperti cinta.

Senja tentunya telah turun di pulau tanpa nama itu menjadikannya sebuah gundukan menghitam ketika permukaan laut seperti puisi seperti permukaan agar-agar berwarna kelam yang terus menerus bergerak pelahan dengan lembut dan memberi perasaan rawan. Betapa tidak akan menjadi rawan ketika langit menjadi gelap, menghitam, dan muram? Hanya ada sedikit mega di sana dengan sisa-sisa cahaya yang sudah sangat terlalu remang dan meski keremangan bukanlah kegelapan tetapi keremangan lebih memberi perasaan rawan daripada kegelapan.

Tentunya ke sanalah aku dengan perahu motorku terbang di atas ombak dalam keremangan senja yang menguji ketabahan. Betapa tidak akan menguji ketabahan--jika sesuatu yang sudah seolah-olah seperti cinta masih juga tidak memberi jaminan kebahagiaan? Namun apakah masih boleh disebut semacam cinta jika tidak terdapat kebahagiaan padanya meski setidak-tidaknya sesuatu seperti kebahagiaan dalam penderitaan? Tetapi siapakah yang terlibat dalam kebahagiaan dan penderitaan sebenarnya-- perempuan itu tidak pernah ada meskipun aku sedang menuju ke arahnya, dan sesuatu yang tidak ada mestinya tidak perlu membawa kebahagiaan maupun penderitaan. Hanya ada senja dan seorang perempuan yang tidak ada tetapi yang tetap menunggu dengan segala kemungkinannya dan aku sedang menuju kesana untuk menjemput kemungkinan- kemungkinan itu.

Lautan hanya remang, permukaan agar-agar yang mulus, halus, dengan ombak berkecipak di tepi perahu motor yang meraung dalam keremangan. Tentunya juga akan kucari sisa-sisa senja yang mestinya menjadi bagian terindah dari senja. Itulah saat ketika matahari tenggelam seutuhnya ke balik cakrawala dan langit hanya merah semerah-merahnya senja--tetapi saat itu sudah lewat, aku terlambat. Aku tidak bisa tiba di tepi pantai di pulau tanpa nama itu ketika senja sedang kemerah-merahan ketika warna emas semburat di langit dan menyepuh kulitnya yang tembaga. Perempuan berkulit tembaga itu mengenakan kain sebatas dada dengan rambut tergerai kecoklat-coklatan dan warna kulitnya yang tembaga menjadi keemasan-emasan dalam cahaya senja dan
tentunya aku sedang menuju ke arahnya.

NAMUN senja sudah sampai kepada batasnya. Perahu motorku melaju dalam keremangan menuju ke pulau tanpa nama. Ini tidak seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya. Semula aku mengira akan melihatnya berada di tepi pantai yang berkilat karena pantulan cahaya. Dia akan tampak sebagai siluet yang berjalan di atas pasir yang basah dan karena itu menjadi berkilat-kilat karena setiap butir pasir mengertap membiaskan cahaya di pantai yang landai, begitu landai sehingga jejak telapak kakinya yang mungil tampak memanjang lurus tak berkelok tak berbelok dan hanya lurus karena rupa-rupanya ia berjalan dalam lamunan. Siapakah kiranya yang bisa menebak lamunan seorang perempuan yang sedang berjalan sendirian di pantai dalam senja yang keemasan tetapi yang hanya tampak sebagai siluet dalam senja yang memang semula keemas-emasan dengan bias menyilaukan pada pasir yang basah dalam angin yang asin dan juga basah?

Aku melaju di atas perahu motorku menuju ke pulau tanpa nama itu, yang masih saja ada sebagai pulau tanpa nama yang memang tak pernah bernama sejak pertama kali manusia menemukannya. Mungkin saja pulau itu pernah punya nama suatu ketika pada suatu masa entah kapan di masa yang sudah terlalu silam bahkan berganti-ganti nama tetapi tiada seorangpun mengetahuinya--mungkin saja, kenapa tidak, mungkin saja. Namun aku sedang menuju ke sebuah pulau tanpa nama yang memang tak bernama tak pernah punya nama tak perlu punya nama tak usah punya nama untuk apa jika pulau itu memang tidak membutuhkan nama. Sebuah pulau tanpa nama dalam senja yang kuharapkan sejak semula akan tetap saja merah begitu merah ketika matahari tenggelam ke balik cakrawala meninggalkan langit yang akan mendadak semburat keemas-emasan. Haruskah ada yang lebih indah dari senja--meski tanpa kisah cinta di dalamnya?

Tetapi tentunya aku akan terlambat. Senja yang keemasan sudah lewat. Barangkali aku tidak terlambat, hanya saja dilahirkan beberapa saat lebih lambat. Kalau aku dilahirkan beberapa saat lebih cepat, aku akan tiba di tepi pantai di pulau tanpa nama itu tepat ketika piringan matahari merah raksasa itu sedang terbenam saat perahu nelayan lewat di jauhan melintas cakrawala. Senja yang keemasan dan seorang perempuan dalam siluet berjalan pelahan meninggalkan jejak panjang dengan lamunan di kepalanya ketika buih ombak menghempas ke pantai yang landai--apakah pemandangan itu memang ada ketika aku melihatnya? Aku melaju ke pulau tanpa nama itu mengejar matahari yang terbenam seolah-olah begitu cepat ke balik cakrawala.

Tentunya aku memang akan terlambat, senja telah lama menghitam dan menggelap.Aku sedang menuju ke pulau itu, yang tentunya telah menjadi gundukan nan hitam nan gelap menantikan malam. Tentunya, tentu, dan aku memang belum melihatnya-- tentunya aku melaju ke pulau tanpa nama itu, membayangkan perempuan berkulit tembaga itu lenyap ditelan bayang-bayang menghitam. Senja meremang di atas lautan, kalau aku tidak terlambat aku masih akan bisa melihatnya. Perempuan itu mungkin masih setia dalam penantian di tengah keremangan. Tiada lagi senja kemerahan, tiada lagi senja keemasan--tiada lagi pemandangan
mengesankan karena memang tiada lagi siluet seorang perempuan berambut panjang mengenakan kain sebatas dada yang berjalan di pantai dengan kaki telanjang membentuk jejak yang panjang di atas pasir basah yang mengertapkan cahaya keemas-emasan. Tiada lagi, karena yang tersisa hanyalah keremangan, dengan sisa sedikit saja cahaya di balik mega. Sisa cahaya yang membuat keremangan bertahan dalam kegelapan.

TIADA lagi senja yang keemasan, tapi ini masih senja. Bukan senja yang kemerah-merahan melainkan yang remang menjelang malam. Ini masih sebuah senja di sebuah pulau tanpa nama yang menghitam dan perempuan itu masih mungkin berada di pantai menatap lidah-lidah ombak yang masih saja berdebur dan menghempas meninggalkan busa yang mendesis ketika diserap pasir basah dalam gelap. Permukaan laut masih tampak seperti agar-agar tentunya, agar-agar yang ungu membiru dan akhirnya menggelap tapi masih saja tampak menjelang gelap yang tentunya akan menjadi gelap segelap-gelapnya malam. Tentunya, karena ini masih senja, senja yang nyaris gelap--nyaris, tapi belum menjadi benar-benar gelap, dan apakah kiranya yang bisa kita saksikan dalam kegelapan yang pekat, begitu pekat, sehingga tiada lagi yang bisa dilihat selain gelap? Juga tentunya, karena aku tidak yakin semua ini akan menjadi nyata, meski seperti mengharapkannya. Aku akan melaju bersama perahu motorku berlomba dengan kegelapan itu menjemput seorang perempuan yang menunggu.

"Ia akan berada di sana pada suatu senja," kubayangkan seseorang akan berkata," jemputlah perempuan itu dan bawalah ia kemari dengan segera. Kami sudah berjanji. Dia sudah tahu akan dijemput pada suatu senja di pulau tanpa nama, tolong, sekali lagi tolong, jemputlah dia. Bawalah dia kemari dengan segera. Aku sangat mencintainya. Dia sudah lama menunggu dan aku sudah berjanji akan menjemputnya. Kami saling mencintai, sangat saling mencintai, bahkan maut tak bisa memisahkan hati kami yang telah menyatu, erat merekat, lengket seperti ketan.
Segeralah, pergilah, jemputlah dia segera. Jangan sampai terlambat." Mungkinkah aku membayangkan diriku sendiri untuk sebuah adegan yang tidak akan pernah ada?

Seandainya, ya seandainya ini memang nyata, tentu aku tidak akan pernah tahu apakah perempuan itu memang menunggu, sebetulnya tidak menunggu, atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali. Sudah terlalu sering aku melihat pemandangan semacam itu, seorang perempuan yang berjalan di pantai seperti menunggu sesuatu, seorang perempuan yang berjalan dalam siluet ketika angin yang asin berhembus dan mengibarkan rambutnya dengan semacam lamunan dalam kepalanya. Tentu aku tidak pernah tahu pasti apakah seorang perempuan di pantai dengan kain sebatas dada yang melangkah dengan kaki telanjang meninggalkan
jejak-jejak memanjang di pasir basah yang mengertap keemasan sedang melamun atau tidak melamun, tetapi mungkinkah, ya mungkinkah, ketika berada di tepi pantai dalam senja dengan langit kemerah-merahan yang membuat permukaan laut menjadi semburat jingga seseorang tidak akan melamun sama sekali, sama sekali, sangat-sangat- sangat tidak tersirat sesuatu sama sekali?

TETAPI, begitulah, apa yang tidak mungkin di dunia ini? Seperti juga mungkin perempuan itu memang tidak pernah ada tetapi mungkin saja ternyata memang ada. Ia bisa ada, bisa tidak ada, aku tidak bisa memastikannya.
"Tolonglah," mungkin memang diriku sendiri yang akan berkata lagi, "tolonglah, jemput dia di sana sebelum senja menjadi begitu gelap dan begitu muram. Senja memang indah, tetapi ketika berakhir ia menjadi begitu rawan dan memberi perasaan kehilangan. Tolonglah, jangan sampai dia tenggelam dalam kegelapan jangan sampai dia disapu malam meskipun itu malam yang paling berbintang. Tolonglah, jemputlah dia ketika senja sedang kemerah-merahan ketika senja sedang keemas-emasan dan dia tampak sebagai siluet berjalan sepanjang pantai meninggalkan jejak yang panjang di pasir basah. Tolonglah, jemput dia sebelum senja menjadi gelap."

Tentunya hampir semua pulau di balik cakrawala itu tidak bernama, atau pernah punya nama tetapi tiada seorang pun di antara para nelayan yang merasa ingat apakah ada satu saja nama meski untuk salah satu saja dari begitu banyak pulau-pulau kecil di balik cakrawala itu. Aku tentunya melaju dengan perahu motorku menuju sebuah pulau tanpa nama yang belum pernah kuketahui keberadaannya tetapi yang tentunya menjelang senja berakhir seperti ini telah menjadi gundukan menghitam agak seram tanpa harus bersetan untuk membuatnya tampak keramat seolah-olah menyimpan rahasia sejarah dan rahasia alam.

Kalau saja pulau itu ada apakah perempuan itu masih ada? Jika perempuan berkulit tembaga berkain sebatas dada dengan rambut kecoklatan berkibaran itu hanya menantikan sebuah perahu yang akan menjemputnya setiap senja ketika langit masih kemerah-merahan setelah matahari terbenam ke balik cakrawala apakah ia masih akan ada ketika senja ternyata semakin lama semakin meremang, menggelap, dan merawankan perasaan?Aku tidak akan bisa menjawab pertanyaanku sendiri dan tentunya tidak perlu.

Seperti Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada. Tidak pernah ada seorang perempuan yang berjalan dengan kaki telanjang yang tampak sebagai siluet di pantai meninggalkan jejak yang panjang pada pasir basah yang membiaskan langit senja yang keemas-emasan. Tidak ada pulau dan tidak ada pantai. Tidak ada lautan dan tidak ada senja. Tidak ada cinta dan tidak ada diriku. Tiada cerita.
(Dikutip dari: Seno Gumira Ajidarma)


Terakhir diubah oleh aafrianshah tanggal Thu Feb 23, 2012 8:36 pm, total 1 kali diubah

aafrianshah
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 15
Join date : 27.09.10
Age : 31
Lokasi : Bandung, Indonesia

Lihat profil user http://auliaafrianshah.blogspot.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Senja di Pulau Tanpa Nama

Post by Admin on Wed Sep 29, 2010 7:03 pm

TOP Posting nih....... gatot kaca

Admin
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 94
Join date : 22.09.10
Age : 31
Lokasi : depan laptop

Lihat profil user http://hijauhitam.forumn.org

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik