HIJAU HITAM COMMUNITY
1. Diharapkan Untuk Login
2. Bagi New member diharapkan untuk Register/daftar

Enjoy Your Forum
Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Latest topics
» Buku Tamu Hijau Hitam
Tue Nov 20, 2012 1:12 am by veni_judo

» Temu Ramah 2012
Sun Sep 02, 2012 3:54 pm by mitanovianty

» Sisi Lain Temu Ramah.....
Sun Sep 02, 2012 3:27 pm by mitanovianty

» Saran dan Kritik tampilan forum
Thu Feb 23, 2012 9:29 pm by Admin

» Kesejahteraan Sosial dan Problema Pembangunan
Thu Feb 23, 2012 8:48 pm by aafrianshah

» Mustafa Kemal Pasha (Ataturk)
Sun Oct 30, 2011 1:41 am by tatha_neh

» Zona Bebas
Sun Oct 30, 2011 1:23 am by Admin

» Numpang Majang.....
Mon Oct 17, 2011 3:08 am by Admin

» kontrak Dagang kerajaan melayu dengan VOC 1643-1763
Mon Oct 17, 2011 2:37 am by anak_gaul

Navigation
 Portal
 Indeks
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
Affiliates
free forum


Fatamorgana Postmodernisme

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Fatamorgana Postmodernisme

Post by Admin on Sat Sep 25, 2010 4:02 am

Sudah bosan juga sejak pukul 09.23 nongkrong di bangku beton di bawah pohon Akasia belakang musholah. Untung saja ada beberapa orang kawan-kawan sepaham—walah jangan ngerutin jidat dulu, maksudnya sepaham disini cuma istilah yang sama sama memiliki paham yang sama; mari bersenang-senang kalau dosen mbolos ngasih kuliah—berbincang seadanya sambil cengar-cengir atau terkekeh dengan pembicaraan yang mereka tekuni.

Sepertinya memang beberapa orang di tempat ini benar-benar sepaham juga dalam hal berpakaian—sudah hampir seminggu tidak mengganti pakaian, entah apa alasannya; terlalu sibuk kata mereka (weleh-weleh opo toh…)—dengan gaya rambut gondrong-gondrong dan aroma yang mengusik. Sudah hampir seminggu belum keramasan pakai sampo. Jangan salah loh bukan berarti mereka tidak menjaga kebersihan atau tidak memperdulikan sebuah teks kudus, “kebersihan itu sebahagian dari iman”. Justru orang-orang sepaham tadi malah sangat memperhatikan kebersihan dan kekudusan. Hanya saja bagi mereka penampilan luar bukan sesuatu yang begitu penting dan menentukan baik-tidak perilaku manusianya. Kebersihan jiwalah yang dianggap lebih urgenitasnya berada di puncak nilai kemanusiaan.

Apa iya juga ya… ya sudah mari kita lanjutin menyimak perilaku orang-orang sepaham tadi! Kelihatannya ada benarnya juga tadi, nilai yang dimiliki kawan-kawan kita si mahasiswa-mahasiswa aneh tadi. Persoalannya walau memang sudah merasa sedikit senang dengan kebiasaan dosen yang bolos memberi kuliah, yang memang sudah menjadi hobby sebahagian dosen, mereka tidak melewatkan waktu begitu saja tanpa kegiatan berarti.

Wajah mereka mulai terlihat memudar warna tertawa dan cekikikan-cekikikannya. Berganti wajah dengan jidat yang mulai berkerut menandakan keseriusan pembicaraan akan berlangsung. Kali ini mereka sudah berada di beranda musholah sebelah kanan. Tempat yang sejuk karena terlindungi dari sinar matahari langsung oleh pohon kelapa sawit yang ada di sekitarnya.

Wabah ini dimulai si “A” yang entah mengapa kok bertanya seakan nyeletuk kepada kawan di sebelahnya yang tersebutlah namanya sebagai “P”. mereka sudah duduk di beranda dengan santai, ada yang meluruskan kaki ada juga yang melipat kaki kiri sementara kaki yang lain diizinkan dilipat vertical menyentuh dada. Seorang lagi yang bernama “S” sedang asik membongkar-bongkar isi tasnya, mungkin memeriksa sesuatu yang berharga baginya.

“Lebih awal mana ya, mempercayai al Quran atau Akal?”

Kedua temannya yang tadi masih belum begitu terfokus mulai memusatkan perhatian pada pertanyaan tadi walau pura-pura tak acuh.

Belum lagi mereka sempat berfikir si penanya melanjutkan ucapan sebagai penegas pertanyaan, mengapa dia harus bertanya seperti itu. “Kalau kita lebih mengutamakan Akal sebagai penentu, berarti al Quran lebih rendah kekdudukannya dari Akal.”

“Ya sudah al Quran dululah yang lebih pertama kedudukannya. Sudah kau jawab sendirikan.” S nyeletuk.

“Tunggu dululah wak genk aku belum siap ngomongnya. Tapi kalau kita meletakan Al Quran lebih tinggi, lantas pakai apa kita mempercayai kalau al Quran itu kalau benar-benar kitab yang suci yang harus kita yakini. Apakah bukan pakai Akal? Berarti Akal didahulukan!”

Waduh…apa ini kok berat sekali diskusinya. Buat kepala nyut-nyutan dan menguras tenaga untuk berfikir.

Memang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka sepertinya berdiskusi seperti ini. Berdiskusi apa saja yang bisa meluaskan pemahaman dan cara berfikir, hitung –hitung mungkin saja dapat mempertebal keimanan, atau malah menjadi semakin bingung dan gebleg. Mereka juga memiliki pemahaman kalau otak ini rusak karena dipakai, lebih baik daripada rusaknya berkarat karena tidak dipakai.

Tetapi apa mesti diskusinya seberat ini dan sok-sokan membahas mana lebih tinggi kedudukan al Quran atau Akal? Walah-walah… ampun.

Tetapi pertanyaan “si A” memang mengusik dan menggerakan kepala-kepala mereka untuk berfikir dan mencari jawabannya. Jelaslah sudah semakin berkerut jidat mereka bertiga memikirkan itu. Sesuatu hal yang memang begitu penting dalam kehidupan apalagi sebagai makluk yang mampu berfikir dengan menggunakan akal. Sampai-sampai mereka sering terlupa dan terlambat makan hanya sering berdiskusi berat dan harus menemukan jawabannya. Tapi kalau urusan terlambat makan atau lupa makan alasannya adalah masalah klasik, masalah negeri kaya yang rakyatnya tidak ketularan kaya. Hehehehe…

Tidaklah al Quran datang dan turun begitu saja kepada manusia dan manusia tanpa tending aling-aling menerima tanpa syarat dan tanpa melakukan apa-apa. Bukankah kalau bersikap seperti tersebut semua terjadi secara doktrinitas masuk kebawa ketidaksadaran manusia. Lantas dengan apa dan cara bagaimanakah membuktikan dan menunjukan bahwa al Quran sesuatu yang tanpa ketidaksempurnaan??

Hampir dua jam juga mereka di beranda musholah dan belum juga terselesaikan diskusinya. Malah semakin bingung sepertinya. Siapasih yang punya inisiatif membuat pertanyaan seperti itu yang muncul di kepala “si A” , kurang kerjaan saja dia.

Adakah bahwa akal yang membuktikan kesucian al Quran? Ataukah al Quran yang lebih dahulu dan lebih tinggi kedudukannya. Kok jadi seperti pertanyaan ayam dan telur atau telur dan ayam begini. Padahal al Quran tidak mirip sama sekali dengan ayam, apalagi akal juga tidak mirip juga dengan telur, tetapi kok bisa mirip begini keadaannya??

Lain dengan argumen “si S”, bagaimanapun al Quran itu lebih tinggi dari Akal, maka al Quran tidak perlu lagi dibuktikan dengan cara dan dengan apapun. (Loh… klasik benar alasannya, malah cenderung doktrinis argumennya). Satu lagi, “S” melanjutkan, dalam Rukun Iman yang ada itu Iman kepada kitab suci (al Quran), tidak ada Iman kepada Akal.

Ada-ada saja mereka ini dengan jawabannya masing-masing. Malah membuat orang bingung.

Si A tidak terima dengan argumen “S”, dengan melontarkan argumennya yang cukup memberikan pukulan telak pada “S”. “Kalau begitu keadaannya artinya al Quran itu tidak masuk Akal. Tanpa harus dibuktikan dan dicermati diterima begitu saja! Aku tak setuju.”

Suasana semakin tegang, dan jam sudah menunjukan pukul 12.15 orang –orang semakin ramai menghampiri mushala. Sepertinya sebentar lagi ada gawean yang mau dilaksanakan. Biasalah gaweannya shalat Dzuhur.

Mereka bertiga masih terlibat dalam diskusi yang semakin mempertaruhkan keimanan dan kecerdasan mereka. Apakah mereka akan disebut sebagai muslim yang beriman namun menomor duakan akal atau malah akan disebut sebagai muslim yang membuat akal menjadi puncak penentuan beragamanya, sampai al Quran dinomorduakan setelah akal.

Sejak tadi “si P” hanya diam-diam saja walaupun tetap terlibat menyaksikan diskusi antara “si A dan si S”. Terkejut juga awalnya “P” saat diberondong kedua temannya untuk memberikan pendapat yang akan menyelesaikan perdebatan nan panjang dan rumit ini. Masalah Aqidah.

Sedikit merasa terhormat juga “si P” harus menjelaskan hal yang rumit dan diberi kepercayaan kedua temannya untuk memberikan jawaban. Namun dalam hati “P” was-was juga apakah jawabannya dapat menjadi sebuah solusi dan jalan keluar antara kedudukan yang lebih tinggi antara al Quran dan Akal.

Baiklah, “P” mulai menjawab dengan terlebih dahulu menarik nafas panjang dan memfokuskan fikirannya serta menantap wajah kedua temannya secara bergantian.

“Setahu yang pernah kubaca dan pelajari Allah menciptakan tiga hal untuk manusia sebagai senjata yang paling canggih dari yang pernah ada.”

Kedua temanya tadi menunggu dengan was-was dan penuh harap. Saat mendengar senjata tercanggih yang pernah ada, kedua orang yang mendengarnya bertanyak serempak seperti terkomando, “Apa itu senjata tercanggihnya?”

“P” masih terdiam besiap-siap melanjutkan ucapannya sebagai penentu, yang lain semakin penasaran saja. “ Allah menciptakan, Akal, Hati, Nafsu bagi manusia sebagai sesuatu yang berada didalam jiwa manusia secara internal atau on board. Kemudian Allah menciptakan Wahyu (al Quran) sebagai penuntun atau sistem.” P terdiam sambil menelan ludah karena mata kedua temannya begitu memburu dan mengejar dirinya.

“Baiklah, menurutku kalau harus dihadapkan seperti ayam dan telur untuk sesuatu yang kita perbandingkan tadi “Akal dan al Quran” bukanlah sesuatu yang harus diperbandingkan mana yang lebih hebat. Jadi kedudukannya tidak bersifat hirarkhis seperti DPR yang membuat undang-undang kemudian dinyatakan syah dan dapat dijalankan oleh pemerintah.”

Si A dan si S terdiam merenung mendengar penjelasan temannya. Dalam hati mereka berkontemplasi mencerna uraian tadi. Berarti Akal harus selalu dilatih dan dibersihkan agar dapat berperan sebagai Akal, sehinggah al Quran dapat dipahami dan dimaknai. Tidaklah nafsu yang meraja sehinggah dalam memahami al Quran terbawa pada suasana doktrinis dan emosional.

Adzan sudah berkumandang dan orang-orang semakin ramai menghampiri mushalah. Pada saat yang bersamaan ketiga makluk pendiskusi tadi bersiap-siap juga untuk meninggalkan musholah. Bukannya mereka bersiap-siap berwudhu untuk menunaikan sholat dzuhur, malah meninggalkan mushola. Entahlah si anak tiga huruf tadi, mungkin mereka masih ingin merenung dengan hal yang didiskusikan kemudian untuk memantapkan dalam jiwanya.

Luaaarr Biaasa mereka… diskusi tentang Aqidah sangat serius dan berat, tiba datang waktu dzuhur… kok????? Kabur….

Sukmo Kelono
Sumber : Surahwan Muhammad’s Weblog

Admin
Moderator
Moderator

Jumlah posting : 94
Join date : 22.09.10
Age : 31
Lokasi : depan laptop

Lihat profil user http://hijauhitam.forumn.org

Kembali Ke Atas Go down

Antara Gus Dur, Roma Irama dan HMI FISIP USU

Post by Wawan Surahwan Muhammad on Sat Oct 02, 2010 1:59 am

Gus Dur pernah ditanya seorang wartawan saat dia masih hidup. Gus, kenapa sih anda selau saja bicara dengan akrab melekatkan guyonan atau dagelan. Malah waktu anda jadi presiden, bisa dibilang anda itu presiden terlucu sepanjang peradaban. Gus Dur malah enteng-enteng saja bersikap, sambil seperti biasa mimik wajahnya, yang memang sudah seperti itu tanpa dibuat-buat. Wajahnya bergerak-gerak lucu khas Gus Dur.

Konon, katanya sejak masih dibangku kuliah Gus Dur memang suka melakukan celoteh-celoteh aneh dan tingkah-tingkah yang aneh. Apalagi ketika kuliah di Kairo, Gusdur suka memplonco pendatang-pendatang baru dari tanah air. Partnernya yang lihai dalam memerankan diri sebagai panitia perpeloncoan adalah K.H. Mustofa Bisri dari Rembang yang kini terkenal sebagai kiayi-penyair.

Pada hari yang tidak disengaja, atau disengaja juga. Tetapi entahlah… mungkin ini memang gerak alami, walau ada yang menggerakannya adalah kekuatan yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar. K.H. Sukri Zarkasyi yang ketika itu belum kiayi tentunya berkunjung ke kediaman Gus Dur. Menurut Gus Dur sih, K.H. Sukri Zarkasyi pekerjaannya di Kairo Cuma main band, tapi pulang kok bisa jadi kiyai. Tentu saja Gus Dur dan Gus Mus(tofa) menyambut dengan hangat kunjungan K.H. Sukri Zarkasyi. Keramah tamahan sudah menjadi perisikap mereka yang dibawa dari tanah air.

Mereka saling berbincang dan menanyakan kabar dan keselamatan, cerita-cerita tanah air yang ditinggalkan. Tak lupa juga direbuskn air untuk dibuat minuman teh atau yang menurut tuan rumah enak disajikan.

Namanya juga tempat kos, yang menjadi tempat tinggal Gusdur dan Gus Mus. Segala kegiatan merebus air dan persiapan lain-lainya oleh Gus Mus untuk menghidangkan air minum bisalah dilihat langsung oleh K.H. Sukri Zarkasyi.

Gus mus sudah mempersiapkan lepekan dan cangkir sambil bertanya kepada Gus Dur dengan suara yang sedang-sedang saja. “Gus, mana lapnya tadi?”

Yang dipanggil langsung saja berjalan mengambil “lap” kearah almari yang ternyata adalah celana dalam alias “sempak”. Gus Dur memberikannya dengan wajah datar tanpa perasaan bersalah kepada Gus Mus. Yang menerima tentu saja memamerkan wajah dingin, kemudian langsung menggunakan untuk mengelap cangkir tanah dan lepek nya. Gus Dur malah asyik lagi berbincang melanjutkan dengan K.H. Sukri Zarkasyi.

Wuiiih… merah padamlah muka calon kiai Gontor ini, sekali gus pucat pasi melihat cangkir tanah yang berisi teh yang harus diminumnya, setelah di lap dengan sempak tadi. Teh sudah tersuguhkan, mau tak mau dia harus meminumnya dengan perasaan dan lidah yang bercampur aduk.

Gus Dur tetap saja santai melanjutkan perbincangan, tak peduli dengan raut wajah Gus Sukri yang kecut. Beberapa saat kemudian mereka bertiga tertawa sejadi-jadinya. Awalnya Gus Sukri merasa sangat dilecehkan benar. Tetapi mendengar penjelasan Gus Dur malah dia sendiri yang tertawanya melebihi lengkingan kedua orang yang bersamanya.

“Cangkir yang untuk kiai Rembang yang mungkin masih keturunan Sunan Kudus, harus dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, diantara kain-kain yang ada. Dan sempak itu betul-betul gress dari toko, belum pernah dipakai sebagai sempak, sehingga belum bisa disebut sebagai sempak.” Guman Gus Dur.

Aku kali ini mau melihat sesuatu yang menjadi kebiasaan bagi anak-anak HMI FISIP USU sering melakukan lelucon-lelucon. Entahlah apa alasan mereka berperilaku ngelucon ini. Kalau Gus Dur bilang lelucon sebagai sesuatu yang penting dalam melewati hari yang memang begitu berat kadang kala.

Aku juga masih mau melihat dan membuktikan, apakah kebiasaan ngelucon ini sama tabiatnya antara Gus Dur dan orang-orang HMI FISIP USU. Pasalnya ada anak-anak HMI FISIP USU yang sering sekali menghadapi berbagai persoalan dengan ngelucu walaupun kemarahan dan emosi sudah berada di ubun-ubun kepala ingin meletup bagai lahar gunung berapi.

Satu contoh yang pernah menjadi hiruk pikuk dan membuat leher uratnya sebesar tali kapal pada saat RAK (Rapat Anggota Komisariat). Biasalah, dan wajar pasti kalau dinamika tinggi dan syarat emosi. Berbedanya dengan guyonan Gus Dur adalah, kalau Gusdur memulainya dari hal yang rumit memcahkan kepala membawanya pada suasana yang enteng dan guyonan tapi tetap harus memiliki makna dari gurauan-gurauan kecil itu.

Tapi pada RAK ini, seorang junior bertanya kepada senior apakah forum RAK ini memang harus dilanjutin sampai larut malam dan artinya adalah begadang. Si senior mencak-mencak dan marah, menganggap si junior menganggap forum RAK tidak penting. Waduh… kecut juga junior yang bertanya itu. Mungkin dia juga pura-pura kecut agar senior merasa dia disegani dan ucapannya bertuah. (Hahay) tapi yang penting kita mesti belajar dewasakan?

“Begadang terkadang diperlukan untuk sesuatu yang bermanfaat dan menyelesaikan permasalahan.” Guman si senior dengan suara keras mengintimidasi junior.

Entah karena takut atau ingin mengiyakan pendapat si senior, si junior tersebut berusaha menjawab dan bermaksud meredahkan persoalan.”Benar Kakanda, begadang itu ada gunanya kalau ada keperluan yang mendesak. Seperti lagu Roma Irama “Begadang” yang menjelaskan perlunya begadang. Dengan segala kerelaan namun belum tentu iklas si junior apa lagi tanggapan yang akan diucapkan senior yang sudah kalang kabut marah karena tersinggung bahwa seorang junior menganggap RAK dengan begadang akan banyak mubazirnya.

“Jadi kalau sudah tahu begitu, seperti lagu begadang tadi, artinya Roma Irama juga mengakui kalau begadang itu juga menjadi sesuatu yang vital.” Senior itu rupanya masih melanjutkan diskusi yang mirip seperti marah-marah. Owalah… sakitlah kepala, uda dijawab kok masih belum puas Kakanda yang satu ini.

Suasana jadi mencekam—lagi-lagi ada yang memanjangkann kata mencekam sebagai mencari cewe kampong—bercampur suhu yang semakin mendingin di daerah pegunungan Sibolangit ini, saat wajah senior-senior masih tegang dan menunjukan ekspresi kecewa melihat mental-mental juniornya yang seperti kerupuk ke siram kuah bakso. Senior yang marah tadi berbicara lagi, kali ini dia bertanya. “Kalau anda telah mengakui bahwa begadang itu ada gunanya seperti yang dikatakan Roma Irama, maka yang jadi pertanyaan adalah ‘Apakah Roma Irama Itu juga kader HMI?”

Waduh.. apalagi maksud si senior ini… udalah bang, masak urusan remeh temeh begini dilanjutin sambil marah-marah. Apalah semua yang terjadi ini. Seorang junior yang masih baru MOP meradang dalam hatinya tanpa mampu berargumen menyandingkan pendapatnya dengan senior yang sudah mencak-mencak itu. Aku sendiri santai-santai ajalah waktu itu walaupun pura-pura serius dan ikut tegang. Makanya orang-orang lain yang berada didekatku dan melihat wajahku tidak tahu apa sebenarnya isi hatiku saat itu. Padahal aku ingin sekali tertawa. Tapi dapat tertahanlah untuk tetap dapat menjaga suasana serius dan mencekam.

Apalagi ini maksud senior tadi pakai acara membuktikan dengan bukti-bukti otentik lagi kalau Roma Irama tersebut sebagai anak HMI karena telah menciptakan lagu ‘Begadang’. Terjebak ternyata junior itu dengan mengikut sertakan Roma Irama dalam membela dirinya.

Ditengah suasana yang semakin rumit itu, merasa tidak nyaman juga aku berada disitu hanya dengan menyaksikan pertikaian senior—junior yang dari tadi membicarakan Roma Irama dan Begadang. Sengaja aku menyempal menginterupsi perdebatan tersebut kepada pimpinan sidang. Sebenarnya interupsi itu ada empat jenis. Pertama interupsi point of orther, kedua interupsi point of informasi, ketiga interupsi poin of clarification dan yang keempat interupsi poin of previlage. Aku memilih yang kedualah dalam memberikan argument melalui pimpinan sidang RAK. “Bagaimana kalau Roma Irama kita lupakan dan alangkah lebih baik kita lanjutkan persidangan dengan membahas Megi Z. atau Mansur S.” walah-walah apalagi sih maksudnya. Sebenarnya aku cuma bosan sja dengan debat yang silang pendapat tadi jadi memancing sikap isengku suasana itu.

Orang-orang di forum pada tertawa. Hanya pengurus saja yang tidak boleh tertawa karena mereka diposisi sebagai pesakitan. Orang yang akan di adili dan diminta pertanggung jawaban. Senior yang marah-marah tadi mau ikut tertawa tidak enak hati takut hilang wibawanya.

Akhir-akhir ini setelah aku semakin mengerti dan mempelajari perilaku-perilaku guyonan itu barulah aku menyadari fungsinya, makanya aku memutuskan untuk menuliskannya walau sekedarnya saja sebagai mengingat sejarah yang pernah dilewati bersama-sama dalam melewati susah senang selama belajar di HMI FISIP USU.

Konon perdebatan itu akhirnya ditemukan jawaban kalau Roma Irama Bukan kader HMI karena seorang pimpinan sidang yang juga Adm. Kesek Kepengurusan mengatakan bahwa dalam Film ‘Gitar dan Melodi” Roma irama tidak pernah kuliah dan menjadi mahasiswa.

Gus Dur punya kebiasaan meluconkan hal yang berat dan rumit menjadi ringan dan gampang di terima. Kalau anak-anak Hmi FISIP USU membuat sebuah lelucon yang ringan menjadi sesuatu yang rumit dan serius.

Kalau sekarang Gus Dur masih hidup dan bertemu dengan anak HMI FISIP USU apa yang kemudian akan terjadi? Waduh… entalah. Tapi pasti seru mungkin.

Kemudian Gus Dur menjawab pertanyaan wartawan itu. Anda sendiri kok lucu nanya-nanya kebiasaan orang lain. Masak anda memahami humor aja kok sulit, apalagi memahami yang lain. Kok geblek sih anda. Haah… kali ini sepertinya Gus Dur jadi serius.

25 Mei 2010

Sukmo Kelono

Wawan Surahwan Muhammad
Simpatisan HMI
Simpatisan HMI

Jumlah posting : 2
Join date : 27.09.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Fatamorgana Postmodernisme

Post by Wawan Surahwan Muhammad on Sat Oct 02, 2010 2:06 am

Sejarah peradaban Barat memiliki perjalanan yang amat panjang dan berliku. Setelah sekian lama manusia Barat terkungkung dalam kebodohan akibat ulah mayoritas rohaniawan Kristen yang selalu mengatasnamakan agama dalam perilaku yang tidak sesuai dengan akal dengan berdalih sakralitas yang tidak bisa diganggu gugat, mereka mengadakan pemaksaan dogma-dogma sakralitas ke benak setiap manusia Barat. Pemerkosaan keyakinan dan pembunuhan intelektual, itulah kata ekstrim dalam menggambarkan situasi zaman itu. Masa kegelapan (dark ages), itulah istilah yang sering dipakai manusia Barat ketika mengingat masa suram abad pertengahan (Midle Ages, 325-1300). Tekanan demi tekanan yang dilakukan penguasa Gereja ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membinasakan mereka.
Selain dogma agama yang mereka sampaikan tidak memberi jalan bagi pengembangan ilmu pengetahuan, bahkan tak jarang dogma-dogma itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang berkembang. Sementara disisi lain, perilaku mereka yang tidak konsekuen atas ajaran agama yang selama itu digembor-gemborkan semakin membuat muak para manusia Barat. Diam-diam para intelektual Barat mengumpulkan daya dan upaya untuk lepas dari belenggu para rohaniawan Kristen. Para ilmuwan mulai mengais-ngais kembali budaya Yunani klasik di kantung-kantung peradaban yang selama ini terlupakan. Pada akhirnya, awal abad ke-14 adalah puncak protes manusia Barat, mereka mengadakan pergolakan besar-besaran sebagai reaksi atas prilaku Gereja dengan mengadakan gerakan pembaharuan, perombakan budaya. Renaissance, itulah puncak pergolakan yang selama ini mereka nantikan. Lepas dari belenggu pembodohan dan bebas dari ikatan-ikatan dogmatis agama yang tak jarang bersifat irrasional, mereka ibaratkan bagai terlahir kembali. Namun, kenyataannya, kebebasan radikal tidak lebih baik dari belenggu pembodohan, dua hal yang telah keluar dari garis netral.

Berbagai isme-isme bermunculan di Barat ibarat cendawan di musim hujan, membuat semakin bingung banyak kalangan. Tidak hanya manusia Timur, bahkan manusia Barat sendiri banyak terjebak dalam kebingungan tersebut. Belum lagi menyelesaikan kendala-kendala epistemologis masa enlightenment (age of reason) yang masih “bermasalah”, mereka sudah dibenturkan pada masalah batas kemampuan rasio manusia dalam konsep humanisme. Belum lagi tuntas penentuan batas liberalitas kehendak manusia, mereka telah dihadang dengan permasalahan baru, modernisme. Belum lagi teori modernisme terpecahkan secara tuntas, dimunculkan ide baru, postmodernisme. Dari sini, banyak sekali kecurigaan muncul, ada apa dengan isme-isme tersebut? Apakah gerangan di balik dimunculkannya isme-isme tadi? Adakah manusia Barat hanya sekedar ingin bermain-main dengan isme-isme tadi, ataukah ada target di balik semua itu? Apa kaitan postmodernisme dengan kita sebagai manusia beragama? Tulisan ringkas ini, akan menganalisa postmodernisme yang terhitung isme terakhir dari sekian isme lain yang dimunculkan oleh manusia Barat.

Postmodernisme
Istilah postmodernist, pertama kali dilontarkan oleh Arnold Toynbee pada tahun 1939. Kendati—sampai saat ini—belum ada kesepakatan dalam pendefinisiannya, tetapi istilah tersebut berhasil menarik perhatian banyak orang di Barat. Pada tahun 1960, untuk pertama kalinya istilah itu berhasil diekspor ke benua Eropa sehingga banyak pemikir Eropa mulai tertarik pada pemikiran tersebut. J. Francois Lyotard, salah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut. Ia berhasil menggarap karyanya yang berjudul “The Post-Modern Condition” sebagai kritikan atas karya “The Grand Narrative” yang dianggap sebagai dongeng hayalan hasil karya masa Modernitas. Ketidakjelasan definisi—sebagai mana yang telah disinggung—menjadi penyebab munculnya kekacauan dalam memahami konsep tersebut. Tentu, kesalahan berkonsep akan berdampak besar dalam menentukan kebenaran berpikir dan menjadi ambigu. Sedang kekacauan akibat konsep berpikir—akibat ketidakjelasan—akan membingungkan pelaku dalam pengaplikasian konsep tersebut.

Banyak versi dalam mengartikan istilah postmodernisme ini. Foster menjelaskan, sebagian orang seperti Lyotard beranggapan, postmodernisme adalah lawan dari modernisme yang dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Sedang sebagian lagi—seperti Jameson—beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas seperti yang diungkap Bryan S. Turner dalam Theories of Modernity and Post-Modernity-nya. Dapat dilihat, betapa jauh perbedaan pendapat antara dua kelompok tadi tentang memahami Post-modernisme. Satu mengatakan, konsep modernisme sangat berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradoks, sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, yang mana tidak mungkin kita dapat masuk jenjang postmodernisme tanpa melalui tahapan modernisme. Dari pendapat terakhir inilah akhirnya postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Post-Modernism Ressistace, Post-Modernism Reaction, Opposition Post-Modernisme dan Affirmative Post-Modernism.
Akibat dari perdebatan antara dua pendapat di atas, muncullah pendapat ketiga yang ingin menengahi antara dua pendapat yang kontradiktif tadi. Zygmunt Bauman dalam karyanya yang “Post-Modern Ethics” berpendapat, kata “Post” dalam istilah tadi bukan berarti “setelah” (masa berikutnya) sehingga muncullah kesimpulan-kesimpulan seperti di atas tadi. Menurut Bauman, postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari prasangka (insting,wahm) belaka.

Asas Pemikiran Postmodernisme
Berbagai isme dan aliran pemikiran lain di Barat selalu bertumpu dan berakhir pada empat pola pemikiran; epistemologi materialisme, humanisme, liberalisme dan sekularisme. Tidak terkecuali dengan postmodernisme. Dikarenakan manusia Barat berpikir atas dasar epistemologi materialis sehingga berakhir pada anggapan bahwa (jenis) manusia adalah simbol kesempurnaan. Dikarenakan manusia adalah eksistensi sempurna, maka ia dianggap tolok ukur dan kutub semua eksistensi dan sebagai micro-cosmos. Dari sinilah muncul pemikiran Humanisme. Ungkapan “aku berpikir, maka aku ada” adalah perwujudan dari pemikiran di atas. Karena manusia memiliki rasio, maka ia bisa menjadi poros alam. Jadi Rasiolah yang menjadi pusat kesempurnaan manusia. Selain itu, manusia juga memiliki kebebasan berkehendak (free will) yang tidak boleh dihalangi, demi kemajuan manusia. Maka berdasarkan rasio dan kebebasan inilah muncul pemikiran liberalisme yang berarti meminimilir secara optimal batas gerak manusia. Pembatas gerak manusia dapat terwujud dalam berbagai bentuk; adat istiadat, kebiasaan maupun norma agama. Dari situ dimunculkan Sekularisme yang berarti pembatasan dan meminimilir campur tangan agama pada kehidupan manusia.
Walaupun muncul berbagai persepsi yang berbeda-beda tentang postmodernisme, namun ada satu kesamaan di antara semua persepsi tadi, asas-asas pemikiran postmodernisme. Selain bertumpu pada empat hal di atas, aliran ini juga bertumpu pada enam hal dibawah ini, yang mana antara satu dengan yang lain terdapat kaitan yang amat erat:
Pertama, penafian atas ke-universal-an suatu pemikiran (totalism). Para penganut postmodernisme beranggapan, tidak ada realita yang bernama rasio universal. Yang ada adalah relativitas dari eksistensi plural. Oleh karenanya, mereka berusaha merubah cara berpikir dari “totalizing” menuju “pluralistic and open democracy” dalam segala aspek kehidupan, termasuk berkaitan dengan agama. Dari sini dapat diketahui, betapa postmodernisme sangat bertumpu pada pemikiran individualisme sehingga dari situlah muncul relativisme dalam pemikiran seorang postmodernis.
Kedua, penekanan akan terjadinya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus, sebagai ganti dari permanen (tsabat) yang amat mereka tentang. Manusia postmodernis beranggapan, hanya melalui proses berpikir yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Oleh karena itu, jika pemikiran manusia selalu terjadi perubahan, maka perubahan tadi secara otomatis akan dapat menjadi penggerak untuk perubahan dalam disiplin lain. Dari sini jelas sekali bahwa postmodernisme menolak segala bentuk konsep fundamental—bersifat universal—yang memiliki nilai sakralitas dan yang menjadi tumpuan konsep-konsep lainnya. Manusia postmodernis diharuskan selalu kritis dalam menghadapi semua permasalahan, termasuk dalam mengkritisi prinsip-prinsip dasar agama.
Ketiga, pengingkaran atas semua jenis ideologi. Selayaknya dalam konsep berideologi, ruang lingkup dan gerak manusia akan selalu dibatasi dengan mata rantai keyakinan prinsip yang permanen. Sedang setiap prinsip permanen dengan tegas ditolak oleh kalangan postmodernis. Oleh karenanya, manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen apapun, termasuk ideologi agama.
Keempat, pengingkaran atas setiap eksistensi obyektif dan permanen. Atas dasar pemikiran relativisme yang mereka yakini, manusia postmodernis berusaha meyakinkan bahwa tidak ada tolok ukur sejati dalam penentuan obyektifitas dan hakekat kebenaran. Tuhan yang dianggap sakral oleh manusia agamis pun mereka ingkari. Ungkapan Nietzsche “God is Dead” atau ungkapan lain seperti “The Christian God has ceased to be believable”, terus merebak dan semakin digemari oleh banyak kalangan di banyak negara Barat, sebagai bukti atas usaha propaganda mereka. Ingat, ungkapan mereka tidak hanya berkaitan dengan agama Kristen, namun akan mereka generalisasi kesemua agama termasuk Islam.
Kelima, kritik tajam atas semua jenis epistemologi. Kritik tajam secara terbuka merupakan asas pemikiran filsafat postmodernisme. Pemikiran ataupun setiap postulat—yang bersifat prinsip—yang berkaitan dengan keuniversalan, kausalitas, kepastian dam sejenisnya akan diingkari. Berbeda halnya pada zaman Modernis, semua itu dapat diterima oleh manusia modernis. Tentu, hal itu bukan berarti bahwa semua pemikiran yang dulu terdapat pada masa modernisme ditolak mentah-mentah oleh postmodernisme. Rencana postmodernisme pada kasus tersebut adalah dalam rangka mengevaluasi kembali segala pemikiran yang pernah diterima pada masa modernisme, dengan cara mengkritisi dan menguji ulang. Henry Girao, seorang interpretator postmodernisme mengatakan, “Tugas filsafat adalah untuk meminimilir kedekatan jarak antara modernisme dan postmodernisme, terutama dalam bidang tujuan maupun target pendidikan dan pengajaran.”
Keenam, pengingkaran akan penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai maupun berargumen. Dengan kata lain, para manusia postmodernis cenderung menggunakan metodologi berpikir “asal comot” tanpa dasar standar logika yang jelas. Konsep berfilsafat dalam era postmodernisme adalah hasil penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran. Mereka tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat tertentu. Hal ini mereka lakukan demi menentang kaum tradisional yang selama ini mereka anggap tidak memiliki pemikiran maju karena mengacu pada satu asas pemikiran saja. Padahal tanpa mereka sadari, pengadopsian berbagai pondasi pemikiran sangat rawan dalam kesalahan berpikir. Berapa banyak paradok terjadi antara pemikiran filsafat satu dengan yang lain. Itulah yang sekarang ini dihadapi oleh para pendukung postmodernisme, paradoksi pemikiran. Untuk menutupi rasa malunya, para pendukung postmodernisme –seperti Rorty- menganggap bahwa apa yang mereka dapati sekarang ini adalah apa yang disebut dengan post philosophy, puncak perbedaan dengan filsafat modernis. Dengan jenis filsafat inilah, mereka ingin meyakinkan masyarakat Barat bahwa dengan berpegangan dengan konsep dan ideologi tersebut mereka akan dapat meraih berbagai hal yang menjadi impian dalam kehidupannya. Namun, mereka tetap tidak dapat lari dan bersembunyi dari segala bentuk paradoksi pemikiran yang selalu menghantui dan menghadangnya.

Analisa atas Dasar-Dasar Pemikiran Postmodernisme
Dari enam asas utama postmodenisme di atas dapat diketahui, betapa manusia postmodernis memandang sesuatu selalu melalui sudut pandang idealis, bukan realis. Tentu, pada tataran realita tidak mungkin akan kita dapati praksis yang sesuai dengan teori yang berasas hal-hal di atas. Jika setiap orang tetap akan memaksakan pengaplikasian di alam realita, niscaya kehancuran yang bakal terwujud, bukan perdamaian. Bagaimana mungkin seseorang tidak boleh dibatasi oleh suatu hal prinsip yang permanen, atau berpikir benar tanpa landasan standar logika yang pasti. Sedang banyak hal-hal prinsip dan paten (permanen) yang secara necessary preponderances (badihiaat-awwaliyaat) harus diterima oleh manusia yang berakal sehat. Karena segala prinsip logika untuk menjadi kebenaran pasti harus kembali kepada tata cara penerapan silogisem (qiyas) dengan bentuk demonstratif (burhan), sedang silogy demonstratif itu sendiri premis-premisnya (mayor-minor) harus dari sesuatu yang pasti (necessary, badihiaat)—sehingga hal tersebut bisa dijamin kebenarannya, dimana premis pasti ini bertumpu pada kemustahilan bertemunya dua hal paradok (ijtima’ an-naqidzain) yang masuk kategori necessary preponderances (badihiaat-awwaliyaat). Semua itu telah dibahas secara rinci dalam ilmu logika.
Jika dilihat dari sisi epistemologis, skala berpikir yang disodorkan oleh teori postmodernis sangatlah dangkal. Banyak paradoksi yang akan kita dapati dari teori tersebut, jika dipaksakan pada dataran praksis akan terjadi apa yang disebut dengan “nihilisme”, kekosongan. Kosong dari prinsip, ideologi, argumentasi rasional, logika sehat, pemahaman teks, konsep beragama dsb. Menurut keyakinan postmodernisme, tidak ada satu hal pun yang bersifat universal dan permanen. Sedang disisi lain, doktrin mereka, manusia selalu dituntut untuk selalu mengadakan pergolakan. Lantas, bagaimana mungkin manusia akan selalu mengadakan pergolakan, sementara tidak ada tolok ukur jelas dalam penentuan kebenaran akan pergolakan? Bagaimana mungkin manusia selalu mengkritisi segala argumentasi yang muncul, sedang tidak ada tolok ukur kebenaran berpikir? Bagaimana mungkin manusia bisa beragama, sedang konsep beragama harus dibarengi dengan keimanan, sementara menurut postmodernis tidak ada keimanan dan keyakinan universal dan permanen? dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang bisa dimunculkan dari asas-asas dasar postmodernisme.
Salah satu masalah prinsip yang bisa dilontarbalikkan kepada para pendukung aliran ini adalah; adakah asas-asas postmmodernisme di atas pun bersifat universal atau permanen? Pasti—berdasar pondasi pemikiran mereka—jawabannya negatif, berarti postmodernisme tidak memiliki asas-asas yang jelas (baca: universal dan permanen). Bagaimana mungkin akal sehat manusia dapat menerima sesuatu yang tidak jelas asas dan landasannya? Jika jawaban mereka positif, jelas sekali, hal itu bertentangan dengan statemen mereka sendiri. Sebagaimana postmodernis selalu menekankan untuk mengingkari bahkan menentang hal-hal yang bersifat universal dan permanen. Maka atas dasar postmodernisme pula seseorang dapat menggugat ke-universal-an dan ke-permanen-an asas-asasnya yang telah mereka sepakati. Jadi, atas dasar pemikiran postmodernisme seorang individu dapat menolak postmodernisme, hal itu dikarenakan postmodernisme tidak meyakini adanya prinsip logika yang jelas dalam menentukan tolok ukur kebenaran berpikir, relativitas kebenaran. Ini salah satu bukti—dari sekian banyak—kerancuan berpikir dalam konsep postmodernisme.
Lantas, apakah mungkin sebagai manusia beragama kita dapat menerima konsep tersebut? Para pengikut postmodernisme meyakini pengetahuan agama tidak berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan lain—yang dihasilkan dari pikiran manusia—yang tidak akan lepas dari perubahan. Kritisi atas semua ajaran agama—apapun bentuknya—merupakan titik kesamaan antara budaya modernis dan postmodernis. Oleh karena postmodernisme lebih radikal dalam menilai agama dibanding dengan modernisme, maka penekanannya atas sekularisme terhadap beragama lebih besar. Walaupun sebagian pengikut postmodernisme—seperti John Milbank—berusaha untuk mencari pembenaran berkaitan dengan hubungan antara agama dan konsep postmodernisme, namun berdasarkan asas-asas postmodernisme yang telah disepakati mereka akan banyak mendapati berbagai benturan. Semakin kuat tertanam asas-asas postmodernisme pada diri seseorang, menyebabkan ia semakin jauh dari konsep beragama. Belum lagi ideologi liberalisme radikal mereka yang terus berusaha untuk meminimilasi semua pembatas, termasuk batas-batas yang telah ditentukan oleh Tuhan dalam agama.
Dalam konsep etika menurut kacamata postmodernisme pun akan dapat ditemui banyak sekali kejanggalan. Penganut postmodernisme meyakini, kesepakatan etika yang obyektif dan bersifat universal adalah sesuatu yang mustahil diraih. Hanya kesepakatan kelompok tertentu saja yang mungkin saja terjadi. Kesepakatan jenis itu saja yang dapat menjadi sumber dan legalitas hukum. Jadi, sumber dan legalitas hukum bersumber pada demokrasi, yang berubah-ubah (tidak permanen) sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi. Dikarenakan penentuan norma etika ditentukan oleh masing-masing individu—sementara tidak jarang antara setiap individu terjadi perbedaan persepsi atas dasar latar belakang masing-masing yang mengakibatkan pergesekan, maka konsep etika merupakan hal subyektif yang bersifat relatif. Jadi, konsep etika menjadi lebih rumit dan tidak dapat dikenal karena masing-masing individu bisa mengaku bahwa prilaku dirinya sesuai dengan konsep etika yang sesuai dengan dirinya. Jika itu diterapkan, dapat diperkirakan apa yang bakal terjadi di tengah-tengah komunitas manusia yang heterogen.
Singkat kata, terlampau banyak konsekuensi-konsekuensi pahit yang harus diterima saat menerima konsep postmodernisme. Yang kasat mata adalah kerancuan berpikir.

Kesimpulan
Banyak pemikiran budaya Barat yang dimunculkan sebagai reaksi akan ketertindasan mereka pada abad pertengahan. Mereka tidak mau pengalaman pahit itu terulang kembali. Demi kebebasan berpikir, mereka korbankan jiwa religiusitas yang terpendam dalam kalbu mereka. Mereka anggap, dengan memberi peluang besar terhadap kebebasan berpikir untuk meneguk nikmatnya air kebebasan akan secara otomatis menghilangkan dahaga jiwa religius yang terdapat dalam diri mereka. Memang, sekilas isme-isme yang mereka bikin akan memberi angin segar bagi kebebasan berpikir. Namun hakekatnya, kemarau panjang akan menghantui pikiran religius mereka. Kecenderungan agamis adalah suatu yang fitri, tidak dapat ditutup-tutupi.
Banyak masyarakat Barat pada akhir-akhir mulai kembali merindukan ajaran-ajaran agama. Survei akhir-akhir ini menunjukkan, kecenderungan manusia Amerika dan Eropa terhadap agama kian meningkat. Hal itu dikarenakan mereka telah melihat, mendengar, bahkan merasakan merasakan, betapa Liberlisme, Humanisme, Feminisme, Scintisisme dan isme-isme lain tidak dapat memberikan ketenangan batin buat mereka, bahkan menyengsarakannya. Isme-isme itu hanya dipakai oleh kalangan tertentu yang merasa kuat untuk menindas kalangan lain yang lemah atau dianggap lemah. Mereka merindukan agama yang selain memberi kesejukan buat jiwa religi mereka, yang juga menjanjikan “kebebasan” dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagaimana dengan Islam? Agama Islam bisa menjadi alternatif ataukah sama saja dengan sisa-sisa warisan agama di Barat? Dengan tanpa ragu hanya Islam yang mewakili hal tersebut yang berani dengan sumber-sumber otentiknya meladeni kepuasan rasional dan spiritual manusia. Al-Quran sebagai sumber utama Islam—yang universal dan permanen—menyebutkan tidak kurang dari lima ratus ayat yang menekankan penggunaan dan penghargaan atas rasio (akal), belum lagi ditambah dengan riwayat-riwayat dari Rasul saw dan Ahlulbait Nabi as. Itu semua sebagai bukti bahwa betapa Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Sejarah juga telah mencatat, berapa banyak ilmuwan Islam muncul yang mengusai banyak disiplin ilmu-ilmu pengetahuan sehingga manusia Barat banyak berhutang budi kepada mereka sebagaimana diakui oleh Will Durrant dan William M. Watt. Hal inilah yang kemudian akan menimbulkan kecemburuan Barat terhadap Islam. Puncak kecemburuan tersebut akan berakhir dengan apa yang telah diramalkan oleh Samuel Huntingtom, “The Clash of Sivilication”. Pertikaian antar kebudayaan, Barat dan Islam.
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama (ideologi—pen.), walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai“ (at-Taubah:33 dan as-Shaf:9)

Wawan Surahwan Muhammad
Simpatisan HMI
Simpatisan HMI

Jumlah posting : 2
Join date : 27.09.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Fatamorgana Postmodernisme

Post by Sponsored content Today at 4:35 pm


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik